No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Kepala BNPB Minta Daerah Lain Tiru Kearifan Lokal Simeulue dalam Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana

22 April 2021
in Daerah, Nasional
Reading Time: 2 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

TAJDID.ID~SIMEULUE II Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni Monardo meminta sejumlah daerah di Tanah Air untuk menggali kearifan lokal di wilayahnya masing-masing sebagai upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana gempabumi dan tsunami, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Simeulue di Provinsi Aceh.

Usai menghadiri forum ramah tamah bersama masyarakat Pulau Simeulue, Rabu (21/4), Doni meminta apa yang dimiliki dan dirawat masyarakat Pulau Simeulue tentang kearifan lokal dalam menghadapi ‘smong’ (tsunami dalam bahasa daerah setempat) dapat ditiru oleh daerah lain.

Menurut Doni, hal itu penting mengingat fenomena alam seperti gempabumi dan tsunami adalah peristiwa yang pasti berulang. Sehingga, dengan kearifan lokal maka informasi mengenai tanda-tanda alam yang dapat memicu bencana dapat diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan risiko dapat diminimalisir.

“Agar seluruh daerah itu harus menggali potensi kearifan lokalnya. Karena gempabumi dan tsunami adalah peristiwa yang berulang,” ujar Doni.

Hingga dewasa ini, waktu pengulangan gempabumi belum dapat diketahui. Teknologi modern pun juga belum mampu mendeteksi kapan peristiwa itu akan terjadi.

Akan tetapi, tanda-tanda kehadiran ‘smong’ seperti yang terjadi di Aceh pada 2004 ternyata mudah dikenali oleh masyarakat Simeulue karena mereka memiliki literasi kearifan lokal yang terus disampaikan melalui budaya tutur dari generasi ke generasi.

Kesaksian Warga

Marzuki (58) salah seorang warga Pulau Simeulue kepada BNPB menuturkan, istilah ‘smong’ mulai dikenal sejak peristiwa gempabumi dan tsunami pada 1907 silam yang secara spontan diucapkan oleh warga setelah melihat adanya gelombang tinggi air laut pascagempabumi.

BACA JUGA

Soroti Pilpres 2024, BEM UIN Malang: Ada Pihak yang Ingin Melanggengkan Kekuasaan

Dua Dosen UMMAD Raih Pendanaan Riset dari Kemdiktisaintek

Rugi Hingga Rp7 Milyar Lebih, Koperasi Serba Usaha Agro Sumber Sejahtera Laporkan Pencurian Sawit ke Polisi

Tidak Jelas Manfaatnya, MUI Tolak Rencana Sertifikasi Wawasan Kebangsaan bagi Da’i

UM Bandung Jadi Tuan Rumah Sosialisasi Instrumen Akreditasi 2.0 LAM INFOKOM

Melesat Signifikan, UHAMKA Jadi Kampus Islam Terbaik di Jakarta dan 22 Dunia

Dari peristiwa itu, maka literasi tentang peristiwa tsunami kemudian diturunkan kepada anak cucu mereka hingga sekarang.

“Smong ada sejak tahun 1907 menurut cerita turun-temurun nenek moyang kami,” kata Marzuki.

“Smong itu gelombang air laut yang tinggi,” imbuhnya.

Menurut catatan dari peristiwa Tsunami Aceh 2004, lebih dari 1.700 rumah di Pulau Simeulue hancur dihantam gelombang tsunami, akan tetapi korban jiwa yang meninggal dunia hanya ada sebanyak 6 jiwa.

Marzuki lantas menceritakan bahwa masyarakat Pulau Simeulue telah melakukan nasihat nenek moyang untuk melaksanakan evakuasi mandiri besar-besaran sesaat setelah tanda-tanda alam dirasakan dalam peristiwa Tsunami Aceh 2004.

“Saat gempa 2004, saya pun tak mampu berdiri. Besar sekali getarannya. Lalu kami melihat ke laut dan ada juga yang melihat sumur. Air kemudian surut. Nah, menurut nasihat nenek moyang itu tanda-tanda Smong akan datang. Kami segera lari menjauhi pantai dan cari tempat tinggi,” kenang Marzuki.

Dari penuturan itu, maka dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dapat dijadikan sebagai peringatan awal terhadap tanda-tanda gejala alam yang kemudian dapat mendatangkan bencana. Sehingga hal itu kemudian dapat dijadikan petunjuk dan pedoman oleh masyarakat untuk langkah mitigasi serta kesiapsiagaan.

Tak Hanya Gempabumi dan Tsunami Saja

Dalam hal ini, Doni mengatakan bahwa hakekat kearifan lokal dengan fungsi yang sama sebagai early warning system juga dapat dipakai untuk menghadapi berbagai jenis bencana lainnya yang berpotensi terjadi di seluruh daerah di Tanah Air seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung dan sebagainya.

Dengan adanya kearifan lokal tersebut, maka hal itu kemudian dapat dijadikan sebagai ujung tombak dalam membangun kesiapsiagaan dan melakukan upaya mitigasi sebagai pencegahan.

“Sebagian besar wilayah nasional kita memiliki risiko yang tinggi dari ancaman bencana, sehingga kearifan lokal salah satu menjadi ujung tombak kita membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat,” jelas Doni.

Dalam hal ini, upaya mengurangi risiko dan penanggulangan bencana tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Namun harus ada dukungan nyata dari peran serta masyarakatnya.

“Tidak cukup Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tetapi warga diminta untuk selalu menggali dan meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan,” pungkasnya. (*)


Kontributor: Agusnaidi B

Tags: BPNPBDoni Monardo. AcehMitigasi Bencana
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Gandeng MDMC, LLHPB PDA Tulungagung Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana di Satuan PAUD ‘Aisyiyah
'Aisyiyah

Gandeng MDMC, LLHPB PDA Tulungagung Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana di Satuan PAUD ‘Aisyiyah

by Mujaddid
21 Oktober 2023
84
Kepala BNPB Tanam Butun dan Palaka Guna Perkuat Mitigasi Berbasis Vegetasi di Selatan Jawa
Daerah

Kepala BNPB Tanam Butun dan Palaka Guna Perkuat Mitigasi Berbasis Vegetasi di Selatan Jawa

by Mujaddid
29 April 2021
63
Tiga Dosen FISIP UMSU Lakukan Abdimas Mitigasi Bencana di Tanah Jawa
PTM/A

Tiga Dosen FISIP UMSU Lakukan Abdimas Mitigasi Bencana di Tanah Jawa

by Mujaddid
21 Juni 2020
196

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Tindaklanjut MoU, BWI Simalungun Targetkan 241 Sertifikat Tanah Wakaf
  • Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
Daerah

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.