No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Kabinet Rombakan

24 Desember 2020
in Nasional, Opini, Ulasan
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Shohibul Anshor Siregar


Dua dari 6 anggota kabinet Indonesia Maju yang dilantik Jokowi hari ini adalah pengganti bagi Menteri yang ditangkap KPK karena korupsi, yakni Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial menggantikan Batubara dan Sakti Wahyu Trenggono sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan menggantikan Edy.

Kiranya data ini sudah lebih dari cukup untuk mempertanyakan integritas para anggota kabinet secara keseluruhan, karena kisah tertangkapnya 2 anggotanya adalah ibarat puncak gunung es belaka yang dapat saja mencerminkan keseluruhan. Ini bukan tuduhan, hanya logika umum saja dan tidak ada salahnya menjadi perhatian serius bagi KPK.

Indonesia memiliki ciri pemerintahan yang bersifat akomodatif terbatas untuk tujuan stabilitas. Itu terjadi sejak Soekarno.

Konsekuensinya kabinet selalu sangat gemuk dan nomenklaturnya dan atau jobdiscription-nya terasa seperti ditukang-tukangi sehingga efektivitasnya sangat rendah.

Di sini terasa paradoks besar. Selalu dibanggakan bahwa Indonesia sudah memasuki era industri 4.0, namun dalam format kabinet karakter industri 4.0 terutama tentang efisiensi, efektif dan tanggap, itu sama sekali tidak tercermin.

Jumlah anggota kabinet terasa semakin gemuk karena ada jabatan Menteri Koordinator. Bagi saya selain politik akomodasi terbatas, hanya dua alasan diperlukannya Menteri Koordinator.

Pertama, Presiden tidak diyakinkan bahwa dia mampu mempimpin sehingga diperlukan orang-orang lain yang posisinya dalam praktik tak ubahnya seperti “presiden terbatas” dan atasan bagi para Menteri.

BACA JUGA

Silaturahim Ustadz-ustadzah Lingkungan Hidup Beri Warna dan Semangat Baru bagi LLHPB PDA Tulungagung

Ramadan yang Menyatukan: Moderasi, Ilmu, dan Persaudaraan

Republik Amnesia: Rakyatnya Gampang Murka, Cepat Lupa

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari

Jepang ~ UMSU Join Riset Pengembangan Energi Terbarukan

Jadi Finalis Tingkat Nasional, PCM Sunggal Berbagi Strategi Cabang Unggul di Rakerwil LPCRPM Sumut

Kedua, nilai demokrasi yang belum jauh bergeser dari model kerajaan-kerajaan lama, yakni the king can do no wrong. Jadi Presiden itu diposisikan selalu benar dan tidak boleh salah. Jika ada masalah ya Menko itu yang paling bertanggungjawab.

Sebetulnya dengan jabatan Wakil Presiden, seorang Presiden di Indonesia dapat terbantu untuk melakukan koordinasi hingga keberadaan Menko tidak diperkukan sama sekali. Kecuali memang tak bersedia membagi tugas atau posisi Wakil Presiden itu hanya simbol belaka yang menanti ada pemakjulan Presiden baru bisa bekerja.

Memang untuk kondisi perpolitikan Indonesia seseorang yang berniat menjadi Presiden sangat memerlukan kombinasi klaster dukungan hingga benar-benar inklusif. Jika hanya untuk tujuan itulah, untuk memenangi Pilpres, seseorang diperukan untuk menjabat Wakil Presiden, Indonesia telah menyianyiakan energi besar.

Kegemukan kabinet itu masih ditambah lagi dengan para Wakil Menteri. Pesannya bisa bermakna bahwa Menteri itu tidak tahu apa-apa lantas harus di-back up oleh figur ahli, itulah kapasitas Wakil Menteri. Dugaan ini sukar ditepis karena untuk kementerian tertentu jumlah Wakil bisa berbilang. Padahal yang harus diperkuat adalah tim teknis di bawah Menteri mulai dari Kesekjenan, Dirjen, Direktur, lembaga, badan dan unit lainnya.

Tidak sampai di situ, Indonesia pada era pertama kepemimpinan Jokowi telah membentuk jabatan khusus untuk Luhut Binsar Panjaitan, yakni KSP. Kini dijabat oleh Moeldoko yang adalah mantan Panglima TNI. Latar belakang sebagai mantan Panglima TNI itu dan latar belakang Luhut Binsar Panjaitan (Jenderal TNI) lebih dari cukup untuk memperjelas tujuan, peran dan fungsi akomodasi KSP. Pernah ada seseorang sipil di sana, tetapi kita lihat hanya sekejap.

Jokowi juga memerlukan staf khusus dengan kategori yang dia bikin sendiri, yakni milenial. Masih ada juru bicara-juru bicara. Semua menambah keriuhan di samping kegemukan yang kesemuanya mencerminkan ketidak terkordinasian.

Sakti Wahyu Trenggono sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Orang terus mengingat Susi Pudjiastuti yang meski sama sekali belum mampu menjadi garda terdepan untuk merealisasikan makna poros maritim, tetapi ia dianggap memiliki sesuatu untuk dikenang apalagi dengan kasus yang menimpa penggantinya di kementerian itu.

Menteri Kelautan dan Perikanan memiliki misi besar sebetulnya tak hanya menegaskan kedaulatan negara di samudera luas, melainkan juga menjamin kelestarian sumberdaya dan kemanfaatannya untuk kemakmuran negeri yang selama ini disia-siakan.

Pagi ini saya membaca komentar politisi dari PKS yang menyambut Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama dengan harapan “jangan jualan isyu intoleransi dan terorisme”. Itu mewakili pandangan yang terus menerus mempertanyakan ada apa di balik isu kuno dan lebay intoleransi dan terorisme.

Jika pemerintah mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan, dengan menghilangkan kesenjangan, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk intoleran dan apalagi menjadi teroris. Seseorang harus berani membisikkan hal ini ke telinga Jokowi.

Dalam fakta kesenjangan yang terus seolah diabadikan, malah penguasaan ekonomi oleh minoritas adalah intoleransi dan teror terbesar untuk Indonesia yang kurang lebih tak begitu berbeda dengan keadaan jetika Portugis (1509-1595), Spanyol (1521-1692), Belanda (1602-1942), Prancis (1806-1811), Inggris (1811-1816) dan Jepang (1942-1945) masih menjajah di sini.

Ketika baru saja dilantik, Fachrur Rozi berucap bahwa dirinya bukan Menteri agama Islam. Entah apa tujuan ucapan itu. Namun yang jelas ada sesuatu yang dititipkan sebagai misi bagi Kementerian Agama yang bagi PKS sebagaimana disebutkan di atas perlu dikontrol.

Disebut bahwa Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Saya ingin ada kejelasan kordinasi tugas dengan pihak Kepolisian apakah kita akan terus membiarkan supply narkoba (produk luar dan dalam) mengabadikan Indonesia sebagai surga kemaharajalelaan sambil mencari biaya besar untuk pelayanan rehabilitasi sembari memadati Lembaga Pemasyarakatan yang sudah over capacity itu dengan para pecandu. Dengan kondisi ketidakberdayaan pemerintah, mestinya keleluasaan peredaran narkoba adalah dalil tak terbantahkan untuk keputusan tak memberi hukuman apa pun kepada pecandu narkoba.

Urusan Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan tentu akan fokus kepada penanganan covid-19 dan saya kira faktor itulah yang membuat figur yang digantikannya terpelanting. Selain itu filosofi dan orientasi BPJS Kesehatan menanti revisi, tak sekadar administrasinya belaka. Begitu besar dugaan penyimpangan di sana dan keadaan tidak pernah lebih baik.

Ada visi besar yang tak hanya berurusan dengan produk apa yang perlu diimpor dan mengapa diimpor. Masalah ini sangat rumit dan terus-menerus menyebabkan keterpurukan produsen dalam negeri termasuk para petani. Jokowi sangat tegas dahulu soal impor terutama bahan pangan. Tetapi tidak jelas mengapa masih berlanjut.

Muhammad Lutfi sebagai Menteri Perdagangan tidak boleh berfikir memihaki para importir yang mengejar margin keuntungan harga beli barang impor dan harga jualnya di dalam negeri. Saatnya berfikir memerdekakan Indonesia dengan produk sendiri dan itu sagat perlu koordinasi dengan Kementerian serta Lembaga lain.

Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tidak dilihat orang dari tugas baru yang akan dijalankannya, melainkan sebagai Cawapres kalah dan pernah bilang tak mau direkrut ke dalam cabinet. Silakan berinprovisasi menghadapi pilpres 2024 bersama Prabowo Subianto.

Saya kira rekomendasi mantan Capres itu yang memberinya tempat di dalam kabinet. (*)


Penulis adalah Dosen FISIP UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)

 

Tags: KabinetKabinet Indonesia MajuReshuffle
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Bahan Pokok Naik, Aktivis Kota Medan: Menteri Baru, Masalah Baru!
Daerah

Bahan Pokok Naik, Aktivis Kota Medan: Menteri Baru, Masalah Baru!

by Mujaddid
29 Juni 2022
207
Nasional

Usai Dilantik Jadi Mendag Baru, Zulkifli Hasan Puji Kenerja Luhut

by Mujaddid
16 Juni 2022
363
PAN Akan Masuk Kabinet?, Cak Imin: Silakan Masuk, Tapi Jangan Ganggu PKB
Nasional

PAN Akan Masuk Kabinet?, Cak Imin: Silakan Masuk, Tapi Jangan Ganggu PKB

by Mujaddid
25 Maret 2022
353
Sowan ke Megawati, Nadiem Cari Perlindungan Agar Tak Direshuffle?
Nasional

Sowan ke Megawati, Nadiem Cari Perlindungan Agar Tak Direshuffle?

by Mujaddid
21 April 2021
280
Urung Jadi Wamen, ini Alasan Abdul Mu’thi
Muhammadiyah

Urung Jadi Wamen, ini Alasan Abdul Mu’thi

by Mujaddid
23 Desember 2020
502
Muhammadiyah Berharap Positif Kepada Para Menteri Kabinet Indonesia Maju
Kebangsaan

Muhammadiyah Berharap Positif Kepada Para Menteri Kabinet Indonesia Maju

by Mujaddid
23 Oktober 2019
158
Nasional

Tak Ada Menteri Asal Papua, Ini Penjelasan Jubir Presiden

by Mujaddid
7 Mei 2020
110

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
  • Terpilih Secara Aklamasi, Arya Sinulingga Resmi Pimpin PSSI Sumut Periode 2026–2030
  • Kaji Industri Komunikasi Hadapi Disrupsi, UMY dan UMJT Gelar Seminar di Madiun
  • Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
  • SMeCK Hooligan Apresiasi League Cup, Siap Jadikan Medan Tuan Rumah yang Ramah
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
Daerah

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.