No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Purifikasi Demokrasi

18 Juni 2025
in Nasional, Opini, Tilikan
Reading Time: 5 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Demokrasi rakyat hanya jadi sosok “raja” tanpa tahta dan mahkota. Sudah lama tahta dan mahkota rakyat dirampas oleh segelintir orang licik yang selalu mengaku sebagai wakil dan pelayannya di istana demokrasi.

 

D alam tataran filosofis, demokrasi memang tampak begitu ideal sebagai sebuah paham dan konsep yang sangat mengangungkan dan memuliakan eksistensi rakyat. Artinya, peran rakyat dalam narasi demokrasi adalah  tema sentral yang tidak terbantahkan.

Keutamaan eksistensi rakyat itu dapat dilihat dari rumusan defenisi  demokrasi yang selam ini galib kita dengar, dimana demokrasi itu adalah sebuah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Seolah-olah. defenisi ini ingin menegaskan betapa dominanya rakyat dalam konsep demokrasi

Bukan cuma itu, keagungan rakyat dalam demokrasi juga dapat dilihat dari sebuah adagium yang sangat populer, yakni Vox Populi Vox Dei. artinya suara rakyat adalah suara Tuhan.

Coba perhatikan, dalam adagium itu rakyat begitu disanjung dan diagungkan secara eksesif. Tidak tanggung-tanggung, bahkan harkat rakyat telah dilambungkan setinggi langit, dimana suaranaya disetarakan dengan suara Tuhan

 

Degradasi Rakyat

Namun, seketika keluar dari wilayah filosofis, secara praksis, dalam praktiknya demokrasi justru ternyata lebih sering memperlihatkan kesan yang paradoks. Tatkala demokrasi telah menjelma jadi sebuah prangkat sistem, mekanisme dan prosedur yang formal juga kaku, keberadaan rakyat justeru cenderung mengalami degradasi. Rakyat justru lebih lebih sering diabaikan dan dinistakan.

Rakyat memang masih tetap sering disanjung dan dipuja. Akan tetapi itu hanya sebatas dalam jargon dan retorika saja, tidak lebih. Faktanya, rakyat bukan hanya sering ditipu, dikhianati dan dikebiri, tapi juga kerap “dibunuh” di dalam rumahnya sendiri.

Akhirnya, dalam demokrasi rakyat hanya jadi sosok “raja” tanpa tahta dan mahkota. Sudah lama tahta dan mahkota rakyat dirampas oleh segelintir orang licik yang selalu mengaku sebagai wakil dan pelayannya di istana demokrasi.

Begitulah kecenderungan yang terjadi selama ini, kebaikan umum (bonum commine) bagi rakyat (hoi polloi) yang menjadi cita-cita luhur demokrasi filosofis ternyata telah gagal dibumikan ke dalam tradisi kehidupan demokrasi praksis sehari-hari. Pengamalan nilai-nilai luhur demokrasi filosofis justru lebih sering dimanipulasi, sehingga realitas demokrasi kemudian mengalami distorsi, pengerdilan dan pendangkalan.

Demokrasi pun kemudian lebih terkesan hanya sebagai instrumen untuk mengakomodir nafsu kepentingan pribadi dan golongan tertentu saja. Dan parahnya, semua itu dilakukan melulu dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat.

Tentang hal ini, menarik sekali apa yang dikatakan oleh seorang jurnalis Aysha Taryam dalam bukunya “The Opposite of Indifference: A Collection of Commentaries”, dimana dia menyarankan agar demokrasi harus selalu dilihat dengan persfektif filosofis dari pada politis. Karena, menurutnya, setelah demokrasi lahir dari seorang filsuf lalu kemudian dibunuh oleh politisi.

 

Politik Sentris

Boleh jadi, apa yang dikatakan Aysha Taryam tersebut sepertinya ada benarnya. Dunia demokrasi kontemporer, termasuk yang berlaku di negeri ini, memang cenderung terlalu dimaknai secara politik sentris. Artinya, cara-pandang para politisi yang cenderung pragmatis terlalu dominan dalam mewarnai konstelasi kehidupan demokrasi. Seakan-akan dalam memaknai cita-rasa demokrasi yang berlaku hanya perspektif dan interpretasi politisi saja. Akibatnya, dunia demokrasi pun mengalami peyempitan makna, semata-mata selalu diidentikan dengan dunia politik an sich.

Pada hal, bila dicermati lebih dalam, sesungguhnya demokrasi itu tidak harus melulu soal politik. Jangan lupa, demokrasi adalah salah satu puncak karya peradaban manusia, yakni hasil dari eksplorasi dan kontemplasi dari para filusuf di zaman Yunani Kuno dulu yang mencita-citakan sebuah tatanan ideal kehidupan sosial ummat manusia di muka bumi ini.

Memang, dalam tradisi demokrasi pragmatistik, para pelaku politik, terutama para politisi, telah banyak melakukan inovasi dan modifikasi terhadap demokrasi. Dan konon, menurut mereka, semua itu dilakukan dalam rangka sebagai upaya untuk “penyempurnaan” tatanan sistem dan mekanisme kehidupan demokrasi, biar berjalan secara efektif dan efisien.

Namun ironisnya, disadari atau tidak dan disengaja atau tidak, kreativitas para politisi yang teraktualisasi dalam karya legislasi itu justru sering telah mereduksi bagian paling substansial dan esensial dari demokrasi itu sendiri, yakni kedaulatan sejati rakyat.

Tepatlah kiranya apa yang diungkapkan oleh komedian berhaluan kiri, Graucho Marx; bahwa politik itu tidak lain adalah seni mencari dan menemukan masalah, namun sering sekali keliru dalam mendiagnosis masalah itu. Dan akhirnya juga kerap salah dalam menerapkan solusi atas masalah tersebut.

Hal senada juga ditegaskan oleh novelis Tom Robbins, dia percaya pada solusi politik untuk masalah politik. Tapi, menurutnya, masalah utama manusia bukan politis, melainkan filosofis. Jadi, katanya, sampai manusia dapat memecahkan masalah filosofis mereka, maka mereka akan dihukum untuk memecahkan masalah politik mereka secara berulang-ulang.

“Sungguh ini sesuatu yang kejam, membosankan dan terus-menerus,” ujar Tom Robbinson.

 

Purifikasi Demokrasi

Berangkat dari realitas dunia demokrasi yang cenderung banal itu, maka perlu kiranya dilakukan upaya pelurusan pemahaman tentang hakikat demokrasi itu sendiri. Harapannya, dengan ikhtiar ini kesenjangan antara das sein dengan das sollen demokrasi sedapat mungkin bisa dipersempit dan diminimalisir.

Salah satu ikhtiar yang mungkin patut dilakukan untuk menghidupkan kembali elan demokrasi filosofis adalah “purifikasi demokrasi”, yakni sebuah seruan tentang pentingnya upaya pemurnian terhadap  praktik demokrasi yang diamalkan selama ini, termasuk di Indonesia.

BACA JUGA

Wamenlu Anis Matta Ajak Masyarakat Indonesia Baca Buku “Rencana Strategis Pembebasan Masjid Al-Aqsa” Karya Prof Abd Al-Fattah El-Awaisi

Ketum PP Muhammadiyah Ingatkan SUMU Harus Bawa Manfaat: Jangan Slogan Saja, Tak Ada Tindak Lanjut

Ketimpangan Kampus Negeri~Swasta Kian Lebar, Muhammadiyah Desak Evaluasi Jalur Mandiri di PTN

Dekan Fakultas Hukum UMSU Jadi Ketua Pimpinan Sidang Pemilihan Ketua FORDEK FH PTMA

Ketua LPP PWM Jateng Jadi Narasumber Talkshow Hari Kesehatan Nasional ke-59 di JCC Senayan

Ulil Sebut PKB dan PAN Hanya Korban Saja, Warganet: Kalo PBNU Termasuk Korban?

Purifikasi demokrasi yang dimaksud di sini sama sekali bukan sebentuk romantisme historis, yakni ingin mengajak kita kembali ke masa lalu dan kemudian mengidealkan model demokrasi ala Yunani Kuno untuk diterapkan persis di masa sekarang. Tentunya itu sangat musykil dan tidak signifikan lagi.

Disini purifikasi demokrasi lebih dimaknai sebagai sebuah gerakan kesadaran kultural yang memandang pentingnya kembali kepada spirit dan cita-cita sejati demokrasi, sembari juga proaktif melancarkan kampanye dan aksi resitensi terhadap segala bentuk manipulasi dan eksploitasi terhadap demokrasi itu sendiri.

Praksisnya, dalam demokrasi kepentingan rakyat harus selalu jadi prioritas utama untuk diperjuangkan, bukan hanya dalam tataran jargon dan retorika saja, tapi dalam tindakan nyata yang lebih konkrit. Sehingga dengan demikian, kemudian diharapkan akan tercipta sebuah bangunan kehidupan demokrasi dan politik yang lebih “otentik” (meminjam istilah Hannah Arendt).

 

Demokrasi Pancasila

Dalam konteks Indonesia, secara paradigmatik sebetulnya gagasan wacana demokrasi filosofis cukup relevan dan signifikan untuk diterapkan dan dibudayakan. Karena, dari awal bangsa ini sudah memiliki Pancasila, yang diyakini sebagai sebuah formulasi falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam Pancasila itu semestinya menjadi referensi utama untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara republik ini, termasuk dalam hal berpolitik dan berdemokrasi.

Selama ini, kita memang sudah mengenal terminalogi “Demokrasi Pancasila” yang disebut-sebut sebagai nama pilihan demokrasi ala Indonesia. Namun masalahnya, secara empiris, sama sekali kita belum melihat dan merasakan Demokrasi Pancasila itu benar-benar telah menghablur menjadi karakter spesifik atau identitas konkrit dari corak kehidupan demokrasi bangsa ini. Sama sekali tradisi Pancasila belum berperan sebagai guide democracy. bangsa ini, Artinya, keluhuran nilai-nilai Pancasila belum mampu kita implementasikan secara konkrit untuk memandu gerak kehidupan demokrasi kita.

Justru selama ini pemaknaan dan penghayatan kita terhadap Demokrasi Pancasila itu sepertinya cenderung dokmatis dan formalistik. Bahkan, parahnya corak tradisi demokrasi yang berlaku justru sering bertolakbelakang dengan elan filosofi sejati Pancasila itu sendiri.

 

Musykil

Sepertinya harus diakui, menghidupkan kembali tradisi perspektif filosofis dalam dunia demokrasi yang kadung banal bukan perkara gampang. Alasannya, ada kecenderungan mental dan cara berpikir kebanyakan para politisi negeri ini sudah terlalu biasa dengan hal-hal yang serba dangkal dan cenderung instan.

Sebaliknya, dewasa ini sangat sukar untuk menemukan sosok politisi yang benar-benar visioner, yakni politisi yang mamiliki perspektif filisofis dalam pikiran dan kerja pengabdiannya.

Bagi kebanyakan politisi, demokrasi itu tidak lebih dari sekedar sebagai dunia yang serba realistik, praktis dan terukur. Makanya dalam berdemokrasi, yang membuncah di benak mereka cuma obsesi dan ambisi yang pragmatis, yakni bagaimana mereka dapat meraih popularitas dan hedonitas, sekaligus bisa memenangkan kepentingan diri dan kelompoknya.

 

Penutup

Berangkat dari realitas tersebut, tidak salah lagi kiranya yang kita butuhkan sekarang adalah tradisi kehidupan demokrasi yang lebih bermartabat dan bermanfaat langsung bagi rakyat. Dan untuk mewujudkan cita-cita mulia itu, tentunya dibutuhkan iktikad, ikhtiar dan optimisme yang tiada henti dari segenap anak bangsa.

Seperti yang dikatakan Goerge Weigel, demokrasi adalah eksprimen yang selalu belum selesai, menguji kemampuan setiap generasi untuk hidup bebas mulia.

Dari itu, tidak berlebihan jika gagasan demokrasi filosofis bisa diagendakan menjadi salah satu pilihan alternatif untuk segera diejewantahkan dalam seluk-beluk kehidupan politik bangsa ini. (*)


 

 

 

 

Tags: demokrasidemokrasi pancasilafilosofisfilsafat
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Demokrasi yang Bau Bangkai
Nasional

Demokrasi yang Bau Bangkai

by Mujaddid
29 Agustus 2026
10
Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara
Nasional

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

by Mujaddid
20 Juli 2026
16
Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna
Kebangsaan

Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna

by Mujaddid
28 Mei 2026
27
Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting
Daerah

Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting

by Mujaddid
24 Mei 2026
30
Allah SWT Tidak Menciptakan Kejahatan
Islam

Allah SWT Tidak Menciptakan Kejahatan

by Mujaddid
20 April 2026
474
Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi
Jufri Daily

Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi

by Mujaddid
9 April 2026
30
Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia
Esai

Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

by Mujaddid
22 Februari 2026
94
Otentikasi “Gerakan Rakyat”
Nasional

Otentikasi “Gerakan Rakyat”

by Mujaddid
19 Januari 2026
102
Merawat Nyali dalam Demokrasi
Nasional

Merawat Nyali dalam Demokrasi

by Mujaddid
13 Januari 2026
76
Demokrasi yang Terpenjara di Menara Gading
Esai

Demokrasi yang Terpenjara di Menara Gading

by Mujaddid
12 Januari 2026
55

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Cari Pewarta Foto Hilang Kontak, ANTARA Perkuat Koordinasi dengan Basarnas dan Polda Banten
  • Hari Kedua Pencarian 8 Korban Speedboat Hilang, Tim SAR Gabungan Sisir Perairan Krakatau
  • Cari Jurnalis yang Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau, PFI Pusat Berkoordinasi Intensif dengan Tim SAR Gabungan 
  • Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
  • Belajar Profesionalitas dalam Bekerja, Mahasiswa Prodi Ilmu Aktuaria UMJT Madiun Ikuti Magang di BPJS Kesehatan Madiun
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

Desil dan Bantuan: Antara Tepat Sasaran dan Gaya Hidup
Daerah

Desil dan Bantuan: Antara Tepat Sasaran dan Gaya Hidup

Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
Jufri Daily

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.