Site icon TAJDID.ID

Muhammadiyah Mengecam Keras Pembakaran Al-Quran di Norwegia-Swedia

Momen Lars Thorsen pemimpin Stop Islamisation of Norway (SINA) membakar Al-Quran. (Foto: Twitter)

TAJDID.ID || PP Muhammadiyah mengecam keras tindakan pembakaran Al-Quran dan penghinaan kepada Nabi Muhammad yang dilakukan kelompok orang yang menamakan diri Stop Islamization of Norway (SIAN) di dekat parlemen Norwegia pada Sabtu (29/8/2020).

“Aksi demonstrasi anti-Islam di Norwegia yang berakhir ricuh itu menunjukkan sikap Islamofobia yang sangat buruk di era modern yang semestinya menjunjungtinggi perbedaan agama, ras, suku bangsa, dan golongan apapun,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah lewat akun twittermya @HaedarNs , Senin (31/8/2020).

Sebelumnya, pembakaran Al-Quran dan penghinaan terhadap Islam juga terjadi di Swedia hari Jum’at yang lalu, yang juga berakhir rusuh. Ironinya, kata Haedar, tindakan intoleran terhadap Islam di Swedia dan Nurwegia tersebut terjadi di negara yang selama ini pada setiap memberikan Hadiah Nobel berupa penghargaan atas usaha-usaha perdamaian dan kemanusiaan. Swedia bahkan negeri Alfred Nobel, sang penggagas Hadiah Nobel.

Karenanya, kata Haedar, Muhammadiyah berharap dan menghargai tindakan tegas pihak berwenang atas perbuatan anarkis dan intoleran di kedua negeri tersebut.

Ditegaskannya, Muhammadiyah menghargai negara-negara Islam dan pihak lain yang menyampaikan protes atas tindakan anarkis terahadap Islam tersebut sesuai proporsi dan protokol hubungan antarbangsa dan antarnegara yang menghargai hak asasi dan hak demokrasi umat beragama.

“Agama dan umat beragama memiliki hak hidup di negeri manapun, lebih-lebih di negeri demokrasi,” kata Haedar.

Bersamaan dengan itu, Muhammadiyah mengimbau dan mengajak kepada mayarakat muslim di dunia Islam, khususnya di Indonesia agar tetap tenang dan dewasa dalam menyikapi peristiwa di Swedia dan Nurwegia itu secara damai, proporsional, dan elegan.

“Seraya menghindari reaksi berlebihan dan tindakan yang tidak mencerminkan karakter Islam yang menjunjungtinggi perdamaian dan nilai-nilai luhur kehidupan,” pesannya.

Islamofobia di Eropa dan negeri Barat menguat kembali akhir-akhir ini. Menurut Haedar hal itu tidaklah benar dan harus dicegah. Islamofobia terjadi dengan sejumlah motif dan keadaan.

Pertama, terbawa arus sentimen dan ketakutan terhadap Islam yang berlebihan dan sudah menyebar serta menjadi luas di Eropa yang kian hari terus bertambah kuat kecenderungannya.

Kedua, reaksi negatif atas apa yang boleh jadi mereka tangkap secara bias atau salah terhadap fenomena ISIS, terorisme, dan sejenisnya di dunia Islam atau di sejumlah negara yang sering bercampur antara realitas dan bias.

Ketiga, ekspresi demokrasi liberal di negara-negara Barat, yang memberi kebebasan segala bentuk ekspresi hak, yang tentu saja tidak mencerminkan keadaban dunia modern.

Haedar mengatakan, hal tersebut merupakan agenda dakwah global untuk memahamkan tentang Islam yang maju dan rahmat bagi semesta alam.

“Kepada kaum muslim juga diharapkan mampu beradaptasi di negeri manapun hadir sesuai budaya “Di mana bumi dipijak, Di situ langit dijunjung” sejalan prinsip Islam yang membawa misi keselamatan dan kedamaian yang rahmatan lil-‘alamin,” tutupnya. (*)

Exit mobile version