Rabu, Juli 22, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Paderi

Mujaddid by Mujaddid
2020/07/05
in Opini, Ulasan
Reading Time: 2 mins read
0
Paderi
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Ribut-ribut tentang Kepahlawanan Imam Bonjol adalah gerakan politik anti Islam yang bersembunyi di balik isu HAM.

Umumnya sumber utama opini keributan seperti ini adalah Mangaraja Onggang Parlindungan yang bernama asli Alfred Siregar. Ia pernah menulis buku berjudul “Si Pongki Nangolngolan” tahun 1964. Belakangan ini menjadi sorotan publik karena buku itu diterbitkan kembali oleh sebuah organisasi besar yang sekaligus mendorong opini tentang bahaya pemikiran yang wajib diwaspadai oleh Indonesia terutama pemikiran ideologi transnasional Islam.

Ini berbalas baik dan saling menguatkan dengan usaha dunia internasional yang memusuhi Islam terutama sejak 911 yang di Indonesia diimplementasikan dengan anti terorisme, ekstrimisme dan sebagainya. Juga kerap dipadankan dengan anti khilafah.

Hari-hari belakangan ini misalnya ada trend dari pembela RUU HIP meneriakkan HTI sekadar mengambil celah membela komunis. Di balik opini ini terkandung maksud bhe jika orang Islam Indonesia benci PKI maka sebetulnya tak ada alasan karena HTI itu sama dengan PKI sebagai gerakan internasional pembebasan.

Mereka ingin mengagitasi agar orang tak begitu benci PKI dan memaafkan saja dosa-dosanya. Jadi ini sangat politis.

Christine Dobbin (2008) menegaskan Padri adalah ekspansi ekonomi yang meluas hingga ke wilayah utara dari Sumatera Barat.

Kita sendiri di Indonesia tak faham apa itu Paderi. Paderi itu istilah amat teknis yang tak difahami oleh orang awam dan rata-rata orang Indonesia, apa pun agamanya.

Paderi taklah diketahui orang sebagai istilah teknis dalam dunia Katholik, kecuali mereka para peneneliti agama.

Paderi itu julukan stigmatif kolonial. Kolonial mungkin benci Katholik lalu mengidentifikasi gerakan Imam Bonjol dengan mengambil nama dari pemimpin keagamaan Katholik, yakni Paderi. Inilah lucunya. Gerakan yang dituduh teror Islam dinamai dengan nama kebesaran Katholik.

Oleh beberapa orang ahli buku Arfred Siregar dianggap aneh dan tak dapat dijadikan referensi. Lance Castle sendiri pernah mengatakan kepada saya di UGM, bahwa jika ingin baca buku Alfred Siregar bawa dulu dia ke Psikiater untuk bisa memahami informasi apa yang bisa mincul dari seorang dengan status pasien psikiater.

Hamka tertarik dengan buku itu dan mengonfirmasi.

Tak hanya surat menyurat, tetapi forum debat berseri pun dilakukan. Alfred Siregar tidak dapat mempertahankan isi bukunya dan dalam setiap debat ia terus bertahan dengan argumen “sumber data berupa dokumen sudah terbakar”. Argumen terakhirnya adalah “buku ini adalah bahan cerita kepada cucu, bukan buku sejarah”.

Buku Tuanku Rao Antara Fakta dan Hayal (1974) adalah karya Hamka yang menjadi bantahan terhadap buku Alfred Siregar.

Dalam bagian akhir buku itu Alfred Siregar sebetulnya menyebut bahwa ia menebar sejumlah kebohongan di dalam bukunya.

Hanya beberapa yang dia jelaskan dan selebihnya dia anggap sebagai intellectual exercises bagi pembaca agar kritis.

Ayah Alfred Siregar adalah missionaris yang dipekerjakan oleh RMG Jerman sebagai guru. Ia berprearasi dan pernah beroleh award yang menunjukkan pengabdiannya untuk RMG.

Hamka sendiri bingung apa agama Alfred Siregar karena dalam banyak kesempatan mereka berbincang tak terlihat pemahaman maupun pengamalannya sebagai muslim.

Sedangkan ayahnya sendiri jelas Kristen yang tentu sangat faham apa yang dilakukan Nommensen di Toba, mengundang Belanda memerangi sehingga terjadi pembunuhan dan pembakaran besar-besaran. Tidak ada orang yang mendesak hal ini untuk diperkarakan.

Uli Kozok (Utusan Damai Di Kemelut Perang, 2011) dengan setia menerjemahkan korespondensi Nommensen dengan RMG di Jerman dan dengan penguasa kolonial Belanda.

Itulah yang menjadi buku yang menghebohkan tentang tangan berdarah missionaris Jerman di Tapanuli.

Jangan lupakan jejak Nomensen yang membawa pasukan Belanda menyerbu dan menaklukkan Tapanuli dengan melebih-lebihkan kejadian sebelumnya, yakni ekspansi ekonomi Imam Bonjol dengan menyebutnya sebagai teror agama dengan julukan yang sekaligus merendahkan Katholik dengan menyebutnya Paderi. (*)


Penulis dosen FISIP UMSU.

Tags: Alfred SiregarPaderishohibul anshor siregar
Previous Post

Ironi Jenazah Pandemi Corona

Next Post

Muhammadiyah (Kembali) Putuskan Menunda Muktamar

Related Posts

Dari Manokwari: Menyalakan Cahaya Muhammadiyah di Tanah Papua

Dari Manokwari: Menyalakan Cahaya Muhammadiyah di Tanah Papua

21 Juli 2026
119
Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

20 Juli 2026
110
Medan, Kota Sejarah dan Cahaya Gerakan Islam Menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah 

Medan, Kota Sejarah dan Cahaya Gerakan Islam Menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah 

20 Juli 2026
126
Dari Darul Arqam ke Manokwari: Betapa Luasnya Indonesia

Dari Darul Arqam ke Manokwari: Betapa Luasnya Indonesia

20 Juli 2026
110
Tiga Final Piala Dunia dan Satu Harapan untuk Garuda

Tiga Final Piala Dunia dan Satu Harapan untuk Garuda

19 Juli 2026
172
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

19 Juli 2026
129
Next Post

Muhammadiyah (Kembali) Putuskan Menunda Muktamar

Muhammadiyah Akan Gelar Tanwir Secara Daring 19 Juli 2020

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20086 shares
    Share 8034 Tweet 5022
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11917 shares
    Share 4767 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9189 shares
    Share 3676 Tweet 2297
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6313 shares
    Share 2525 Tweet 1578
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6100 shares
    Share 2440 Tweet 1525

OPINI

Dari Manokwari: Menyalakan Cahaya Muhammadiyah di Tanah Papua
AUM

Dari Manokwari: Menyalakan Cahaya Muhammadiyah di Tanah Papua

21 Juli 2026
119
Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara
Nasional

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

20 Juli 2026
110
Medan, Kota Sejarah dan Cahaya Gerakan Islam Menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah 
'Aisyiyah

Medan, Kota Sejarah dan Cahaya Gerakan Islam Menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah 

20 Juli 2026
126
Dari Darul Arqam ke Manokwari: Betapa Luasnya Indonesia
Daerah

Dari Darul Arqam ke Manokwari: Betapa Luasnya Indonesia

20 Juli 2026
110
Tiga Final Piala Dunia dan Satu Harapan untuk Garuda
Jufri Daily

Tiga Final Piala Dunia dan Satu Harapan untuk Garuda

19 Juli 2026
172
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”
Nasional

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

19 Juli 2026
129

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan