No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result
Home
Opini

Santri dan Politik

by Mujaddid
24 Juni 2020
in Opini, Ulasan
Reading Time: 3 mins read
0
0
0
SHARES
370
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Masih kerap muncul pertanyaan dalam dunia politik Indonesia kontemporer tentang hubungan agama dan negara (politik). Rasanya ini bukan hanya karena ignorance (ketaktahuan) belaka di tengah orang awam yang jumlahnya besar, melainkan juga karena adanya niat untuk melemahkan kekuatan politik umat Islam di Indonesia.

Lazimnya disebut politik identitas manakala sikap dan preferensi politik warga didasarkan pada pertimbangan nilai primordialitas tertentu. Politik identitas itu lazimnya semakin dianggap berbahaya jika primordialitas atau aspek identitas yang ditonjolkan itu ialah agama. Jadi atas nama pertimbangan primordialitas, apalagu agama, politik itu dianggap buruk. Tidak sehat. Terbelakang.

Padahal semua politisi tetap berkeinginan beroleh dukungan dari kalangan komunitas agama secara kolektif. Cara yang umum dilakukan ialah berusaha memikat pemimpon pondok pesanteren. Tak semua politisi yang berusaha beroleh dukungan santri itu beragama Islam. Karena itu cukup sulit juga membayangkan politisi non-muslim dianggap wajar beroleh dukungan dari komunitas Islam namun politisi Islam tidak perlu didukung oleh komunutas non-muslim. Fakta-fakta ini cukup luas tersebar dalam fenomena pilkada di Indonesia.

Jadi politisi Indonesia tak mungkin tak menghitung kekuatan umat Islam dan ingin beroleh dukungannya. Itu dianggap sangat baik. Tetapi jika kalangan santri ingin berkuasa dengan terjun ke dunia politik dipandang berbahaya karena dimaknai sebagai politik identitas. Santri dan agamawan juga dianggap tak layak terjun ke dunia politik.

 

Kasus Indonesia

Politik identitas ala Indonesia selalu tampil dengan penandaan yang kuat dengan afiliasi keagamaan yang salah satu basisnya ialah pesanteren. Ini tidak aneh karena sejatinya politik itu concern dengan perjuangan kepentingan identitas. Ini yang sukar diteruma banyak orang. Politik itu sendiri pun kerap didefinisikan “who gets what (kind of value) when and how (by what mean)”. “Who” (siapa) sebagai subjek politik bermakna orang atau komunitas dengan identitasnya secara utuh yang tak mungkin dipisahkan dari identitasnya itu. Dengan identitas itulah dia hidup. Mengapa ia tak dihargai dengan identitas itu?

Lihatlah semua negara di Eropa, lihat juga Ameria dan semua negara lainnya di dunia ini. Pastilah semua berdiri dengan acuan nilai dominan bangsanya dan itu adalah identitas. Mereka mempertaruhkan identitas. Meskipun begitu penting nilai mayoritas sebagai pembentuk identitas itu, Indonesia tidak perlu meniru Amerika yang hari-hari belakangan ini terus menunjukkan kegamangannya karena kesukaan rasialis dan rasistik.

Yakinlah bahwa nilai Islam menyelesaikan berbagai cacat dalam praktik seperti itu dengan sebaik-baiknya. Paling tidak konstitusi pertama di dunia (Piagam Madinah) telah menjadi bukti yang kuat dalam sejarah Islam dan diakui sepanjang sejarah.

Salah satu ormas Islam pemilik terbesar pesanteren di Indonesia malah pernah tercatat dengan keterlibatan yang intens dalam politik. Meski belakangan kembali ke khittah (tak lagi berpolitik praktis) namun secara tidak langsung dan melalui orang-orangnya masih terus dengan keterlibatan intens dalam politik hingga saat ini.

KH Ma’aruf Amin adalah tokoh abad 21 yang menjelaskan bagaimana lakon seorang ulama mampu menundukkan proses politik penentuan Presiden dalam pemilu. Keperkasaan preferensi politik identitas berbasis keagamaan yang melukiskan keniscayaan pengaruh pesanteren terlihat jelas.

Tentu kini Ma’aruf Amin tak lagi mengurus pesanteren secara langsung, begitu pun Majelis Ulama dan juga tak lagi mengurus lembaga keuangan syariah yang dulu digelutinya secara intens dan penuh waktu.

 

Para Pendiri Bangsa

Kisah KH Ma’aruf Amin bukanlah hal baru di Indonesia. Gus Dur juga santri dan pernah memimpin NU. Sejarah Indonesia pun dihiasi oleh besar dan kuatnya pengarus aktivis Islam intelektual bahkan sejak proses pendirian NKRI.

BPUPKI, PPKI dan bahkan Badan Konstituante memiliki bintang pemikir dari kalangan ulama yang amat cemerlang. Bahkan meŕeka di dalam event sejarah itu tercatat berhasil mendialogkan keniscayaan Islam sebagai dasar negara dan memutuskannya meski yang mereka hadapi adalah kaum non-muslim dan kaum sekuler.

Ingatlah karya mereka yang antara lsin ternukil pada Pancasila yang sila pertamanya ialah “Ketoehanan dengan kewadjiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”. Jika belakangan sila pertama itu berubah menjadi “Ketoehanan yang Maha Esa” prosesnya bukan melalui musyawarah mufakat sebagaimana dilalui penuh gairah hingga ditandatangani (Piagam Jakarta yang sekaligus menjadi Mukaddimah UUD 1945, dan tadinya direncanakan sebagai Naskah Proklamasi) tanggal 22 Juni 1945.

Kabinet Indonesia pun tak sepi dari catatan sukses tokoh Islam. Mohd Natsir dan Burhanuddin Harahap (Perdana Menteri) dan dua Presiden RI, selain Gus Dur, adalah intelektual Islam (Sjafroeddin Prawiranegara dan Assaat).
Resistensi atas kiprah tokoh Islam dalam dunia politik itu memang belakangan begitu menguat dengan tudingan politik identitas. Tetapi seingat saya tudingan itu tidak begitu terdengar ketika partai Kristen dan partai Katholik masih ada di Indonesia tahun 2000-an.

Aneh juga kiprah politik Islam akan terus disudutkan di negeri yang dimerdekakan oleh para syuhada Islam hanya karena partai milik Kristen dan Katholik sudah bubar.

 

Berbasis Kemampuan

Tetapi tentu saja tak sembarang tokoh dan tak sembarang santri cocok untuk direkomendasikan ke dunia politik. Politik harus menjadi jalan bagi penyelesaian berbagai masalah. Karena itu politisi primordial tak boleh hanya bermodalkan dukungan mayoritas atas dasar kesamaan agama.

Sesewaktu resistensi orang terhadap agamawan di dunia politik dikarenakan pemahaman bahwa politik itu kotor dan agamawan tidak seharusnya ada di sana.

Padahal politik tak hanya bisa dibuat tak kotor atau bersih. Tergantung kepada orang yang berkuasa dalam politik. Karena itu politik tak boleh sepi dari figur agamawan dan jika mereka melakukan kesalahan dunia tak lantas kiamat. Paling berbahaya tokoh umat yang agamawan tidak ada di dalam kelembagaan politik.

Innallaha layughaiyyiru ma bikaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim. Wallau muwaffiq ila aqwamuththariq.


Shohibul Anshor Siregar, Dosen FISIP UMSU. Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

Tags: politiksantrishohibul anshor siregar

Related Posts

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas
Daerah

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas

28 Juli 2026
13
Shohibul: Presiden Sebaiknya Rombak Struktur Anggaran
Nasional

Sosiolog Soroti Universitas Republik Indonesia: “Institusi Pendidikan atau Reproduksi Elit Kekuasaan?”

24 Juli 2026
31
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”
Nasional

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

19 Juli 2026
35
Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”
Esai

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

3 Agustus 2026
26
Penyiksaan oleh Aparat TNI-Polri di Sumut Ancam Demokrasi dan Hak Asasi Warga
Internasional

Kesaksian Akademisi: AI Menipu Saya, Jangan Percaya Buta!

14 Juni 2026
71
Akademisi ini Paparkan Peta Pilpres 2024 di Sumatera Utara
Nasional

Rupiah Sekarat Bertengkar dengan Siapa? Ini Jawaban Menohok Akademisi

12 Juni 2026
91
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share
    0
    Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share
    0
    Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share
    0
    Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share
    0
    Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share
    0
    Tweet 0

Persyarikatan

Ketum PP Muhammadiyah: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Jadi Agenda Utama
Kebangsaan

Ketum PP Muhammadiyah: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Jadi Agenda Utama

Akademisi UMJT Madiun Kritik Pelecehan Ayat Suci dalam The Sounds Project, Tekankan Pentingnya Etika
Muhammadiyah

Akademisi UMJT Madiun Kritik Pelecehan Ayat Suci dalam The Sounds Project, Tekankan Pentingnya Etika

Gebyar HUT RI 81 dan Syiar Muktamar 49 Muhammadiyah, PRM Titi Papan Gelar Beragam Kegiatan
Daerah

Gebyar HUT RI 81 dan Syiar Muktamar 49 Muhammadiyah, PRM Titi Papan Gelar Beragam Kegiatan

UMSU 1957 FC: Dari Lapangan Kampus, Menendang Bola Kemajuan
Jufri Daily

UMSU 1957 FC: Dari Lapangan Kampus, Menendang Bola Kemajuan

Langkah Progresif Kampus Berkemajuan: UMSU Siap Dirikan Klub Sepak Bola Profesional ‘UMSU 1957 FC’
Muhammadiyah

Langkah Progresif Kampus Berkemajuan: UMSU Siap Dirikan Klub Sepak Bola Profesional ‘UMSU 1957 FC’

Rektor UMSU Cetak Gol di Final, Rektorat FC Segel Juara Piala Rektor 2026
Daerah

Rektor UMSU Cetak Gol di Final, Rektorat FC Segel Juara Piala Rektor 2026

Opini

Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: Soekarno-Hatta dan Wajah Kepemimpinan Indonesia
Jufri Daily

Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: Soekarno-Hatta dan Wajah Kepemimpinan Indonesia

81 Tahun: Sudah Berapa Persen Merdeka Kita?
Nasional

81 Tahun: Sudah Berapa Persen Merdeka Kita?

UMSU 1957 FC: Dari Lapangan Kampus, Menendang Bola Kemajuan
Jufri Daily

UMSU 1957 FC: Dari Lapangan Kampus, Menendang Bola Kemajuan

Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence
Nasional

Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence

Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
Jufri Daily

Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan

Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara
Daerah

Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara

Follow TAJDID.ID on:

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

© 2026 JNews – Premium WordPress News & Magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?
Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required.
Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.