No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Prof Nawer Yuslem: Kebertauhidan adalah Modal Dasar, Benteng dan Senjata Ampuh Hadapi Cocid-19

7 Juni 2020
in Muhammadiyah
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

TAJDID.ID-Medan || Kebertauhidan sebagai keberIslaman dan disebut Islami Life merupakan sesuatu yang mengantarkan kita akan keyakinan bahwa Allah SWT itulah yang berkuasa dan menciptakan. Allah itu yang memelihara dan mengatur bahkan menguasai alam semesta. Ciri pertama kebertauhidan ini menjadi modal dasar dan sekaligus benteng dan senjata yang ampuh dalam menghadapi pandemi Covid 19.

Demikia disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara Prof Dr Nawir Yuslem pada Kajian Virtual yang diselenggarakan PW Muhammadiyah Sumut, Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sumut dan MCCC Sumut, Sabtu (6/6/2020).

“Kalau merujuk persyarikatan Muhammadiyah, kehidupan bertauhid merupakan bagian dari Mukaddimah Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah dan pokok pikiran pertama, bertauhid merupakan sesuatu yang menjadi landasan dalam berMuhammadiyah,” tutur Nawir Yuslem.

Nawir menjelaskan, sebagai umat Islam lebih spesifik warga Muhammadiyah sudah memiliki bekal, bahwa apa yang terjadi sekarang, yang dicemaskan, dikhawatirkan yakni Covid 19 di mana tidak kunjung berakhir. Maka, bekal keberIslaman dengan menyakini Allah, sebagai satu-satunya yang berkuasa, mencipta, mengatur alam semesta sehingga membuat ada semacam tidak gamang, takut dan cemas, dengan new normal ini.

Kalau tidak memiliki pemahaman yang positif dan didukung keberislaman yang baik dan benar, lanjut Nawir Yuslem, bisa salah kaprah, seolah-olah kita seperti normal kembali. Padahal, new normal tidak harus sama dengan apa yang terjadi sebelum Covid-19.

“New normal ini bisa dipahami aturan, prosedur, protokol dan kita laksanakan serta ikuti untuk menjadi sesuatu yang normal dalam kehidupan, sepanjang covid 19 belum berakhir,” katanya.

Guru Besar UIN Sumut ini mengungkapkan, sering kali dalam suasana yang luar biasa, dalam bentuk musibah membuat orang yang lupa kepada Tuhan, akhirnya tersadarkan. Boleh jadi ini merupakan wujud apa yang diajarkan Alquran. Bagaimana cara Allah mengingatkan dan menyadarkan manusia.

 

Pengabdian

Setelah kebertauhidan, Nawir Yuslem menyampaikan maka akan berlanjut pada tindakan dan perbuatan melaksanakan aturan. Tindaklanjut tauhid akan menjadikan manusia hadir, sebagai pengabdi atau beribah kepada Allah. Tuntutan al-Quran lanjut tentang kehidupan Islami, selain bertauhid adalah beribadah kepada Allah SWT.

Dikatakannya, hubungan dengan Covid 19 dalam pelaksanaan beribadah ini, terutama ibadah yang sifatnya berhubungan berjamaah. Seperti salat berjamaah, salat Jumat, salat terawih dan salat Idulfitri, sebagai persyarikatan,organisasi telah melahirkan tuntutan, dengan lahirnya maklumat dan tuntuan ibadah dari PP Muhmamdiyah melalui majelis tarjih dan tajid,

Dalam suasana new normal, katanya,  sudah ada tuntutan ibadah. PP Muhammadiyah sudah mulai memberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah yang sifantya berjemaah. Namun tetap dalam kerangka taat dan patuh pada protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan diikuti oleh warga persyarikatan. Ini bentuk kehidupan Islami yang kedua.

Terkait bagaimana manusia melaksanakan ibadah kepada Allah, seperti ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdha. Dijelaskannya, untuk ibadai Ghairu Mahdha bisa berijtihad, berkreasi dan berinovasi, sepanjang tidak bertentang dengan larangan Allah SWT. Misalnya, disebut muammalah duniawi, silahkan melaksanakan sepanjang tidak ada larangan Allah. Ini tetap mengacu pada suasana new normal yang tetap mengaju kepada protokol kesehatan dan tidak sampai mengantarkan pada mudharat. Dalam larangan Allah, tidak dibenarkan menjerumuskan diri kita kepada mudharat.

Dia menambahkan, sebagai wujud dari beribadah adalah kita menerima dan mengembangkan amanah, maka di antaranya amanah yang ditetapkan dan diberikan Allah sebagai khilafah. Ini merupakan cermin kehidupan Islami.

“Kita harus memerankan diri sebagai Khilafah. Seperti yang disampaikan Allah SWT dalam Surah Hud ayat 61; Ingat ketika Tuhanmu menyampaikan pada para malaikat, aku akan menjadikan bumi ini khalifah dimasukkan adam dan anak cucunya,” tuturnya.

Jadi ini merupakan wujud dari kehidupan Islami bahwa kita bertugas dan berfungsi menjadi Khalifatullah. Dan sebenarnya fungsi dan peranan ini bagian Mukaddimah AD Muhammadiyah, yakni menunaikan amanah yang mewujdukan khalifatullah, wujudnya menciptakan kemakmuran di muka bumi.

“Wujud kemakmuran, melahirkan perbuatan baik dan menghindari mengeliminasi, atau mereduksi berbagai kegiatan yang bisa merusak. Jadi peran kita pengganti Allah dalam rangka mewujudkan apa yang diinginkan kebaikan di bumi,” katanya.

Di sini, lanjutnya sebagai warga Muhammadiyah dan umat manusia secara umum, terpanggil dalam suasana perang Covid-19, keterlibatan untuk melahirkan apa yang namanya Al-Ihsan, Al-Khair. Salah satu yang popular fastabiqul khairat (berlomba-lomba mewujudkan kebaikan), mulai tingkat nasional, wilayah, daerah, cabang hingga ranting.

“Hendak berbuat baik, kepada ibu bapak, kerabat, anak yatim, orang miskin di mana pada pademi Covid-19 ini, bertambah jumlah angka orang yang miskin, bisa jadi karena keterbatasan berusaha, PHK, ditutup berbagai kegiatan usaha dan tetangga di sekitar, yang dekat maupun jauh, teman seperjalanan, ibnu sabil, orang yang berada di bawah kontrol dan kekuasaan. Inilah yang disebut kehidupan Islamic life agar bisa saling melahirkan dan memberikan kebaikan,” jelasnya.

Selain bertauhid, beribadah dan menunaikan ibadah sebagai khalifah, maka dalam rangka memaksimalkan kehidupan Islami  dituntut untuk menyakini dan mengamalkan dan taat aturan yang ditentukan oleh. Konsekuensi lanjut dari tiga subtansi Islam adalah melaksanakan syariat.

Dijelaskannya, syariat ini menurut rumusan Mahmud Syaitut tidak dipahami sempit oleh umat Islam tetapi lebih jauh. Ada syariat yang diturunkan oleh Allah sifatnya detail dan siap pakai, atau ada yang perlu lebih lanjut untuk menata hubungan dengan Tuhan, menata sesama muslim, hak-hak dan menata hubungan sesama saudara, umat Islam tanpa membedakan agama dan keyakinan, terutama kondisi, hubungan dengan alam semesta, sumber daya, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

BACA JUGA

UMSU Lepas Dua Mahasiswa ke Ajang Pilmapres Nasional 2026

Ramadan di Wadas, Lazismu dan LKHP Salurkan Bantuan Kemanusiaan dan Gelar Sarasehan Penguatan Ekonomi

PC IMM Aceh Barat Tolak Wacana Konsesi Tambang Dikelola Perguruan Tinggi

Bangun Kolaborasi, FISIP UMSU dan FISIP UNPAD Tanda Tangan PKS

UMSU Terima Kunjungan 15 Kampus dari Amerika

Klinik Kesehatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Perlu Kembangkan Branding Digital

“Ini empat subtansi, kita sebagai Muhammadiyah, menjadikan Islam menjadi Islam itu sebagai pedoman hidup dalam keseharian dan harus diwujudkan, PHIWM sudah dikenal, mungkin perlu dalam kondisi suasana pandemi, kita baca kembali terutama dalam menghadapi Islamic life new normal,” sebutnya.

Dalam Muhammadiyah PHIWM itu harus diwujudkan, subtansi Islam yang minimal dirinci dalam empat, dalam kehidupan pribadi orang per orang, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat, bertetangga, berteman, dan dalam kehidupan berorganisasi, tingkat paling rendah, ranting, cabang, daerah, wilayah dan pusat.

“Jadi dengan mengimplementasikan PWIHM adalah merupaka aktualisasi dan implementasi subtansi kehidupan Islami yang coba digali dari al-Quran dan as-Sunah,” ajaknya.

Kajian Virtual dibuka oleh Ketua PW Muhammadiyah Sumut, Prof Dr Hasyimsyah Nasution, MA dengan pematik Sekretaris PW Muhammadiyah Sumut, Irwan Syahputra, MA dan moderator Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Sumut, Syaiful Hadi. (*)

Tags: Islamic life new normalketauhidanMuhammadiyah SumutNawir yuslemPHIWM
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Pesan Ketua PWM Sumut kepada Kader IMM UMSU: Sungguh-sungguhlah Belajar dan Dekat dengan Masjid
Daerah

Pesan Ketua PWM Sumut kepada Kader IMM UMSU: Sungguh-sungguhlah Belajar dan Dekat dengan Masjid

by Mujaddid
30 September 2026
67
PKKMB UMSU 2026, Gubsu Berharap Kolaborasi Pemprovsu~Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan Terus Dikembangkan
Daerah

PKKMB UMSU 2026, Gubsu Berharap Kolaborasi Pemprovsu~Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan Terus Dikembangkan

by Mujaddid
28 September 2026
60
Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM
Daerah

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM

by Mujaddid
2 September 2026
102
Dorong Visi World Class University, UMSU Teken Kerja Sama Internasional dengan PCIM Britania Raya dan Irlandia
Internasional

Dari Tanah Deli ke London: Sebuah Jembatan Muhammadiyah Menuju Dunia

by Mujaddid
29 Agustus 2026
64
Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027: Menyambungkan Semangat Masa Lalu dengan Masa Depan
Daerah

Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027: Menyambungkan Semangat Masa Lalu dengan Masa Depan

by Mujaddid
21 Agustus 2026
61
Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
Jufri Daily

Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan

by Mujaddid
12 Agustus 2026
93
Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas
Daerah

Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas

by Mujaddid
7 Agustus 2026
80
Membangun Semangat dari Daerah Penyangga, Menyongsong Sejarah Muktamar 49 Muhammadiyah
'Aisyiyah

Membangun Semangat dari Daerah Penyangga, Menyongsong Sejarah Muktamar 49 Muhammadiyah

by Mujaddid
3 Agustus 2026
76
Menjalani Hidup yang ‘Excellent’, Bukan ‘Sok Paten’
Daerah

Menjalani Hidup yang ‘Excellent’, Bukan ‘Sok Paten’

by Mujaddid
13 Juli 2026
76
LUNAS: Ketika Muhammadiyah dan Aisyiyah Berjalan Berdampingan
'Aisyiyah

LUNAS: Ketika Muhammadiyah dan Aisyiyah Berjalan Berdampingan

by Mujaddid
13 Juli 2026
88

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
  • Terpilih Secara Aklamasi, Arya Sinulingga Resmi Pimpin PSSI Sumut Periode 2026–2030
  • Kaji Industri Komunikasi Hadapi Disrupsi, UMY dan UMJT Gelar Seminar di Madiun
  • Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
  • SMeCK Hooligan Apresiasi League Cup, Siap Jadikan Medan Tuan Rumah yang Ramah
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
Daerah

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.