No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Webinar MAHUTAMA, Buya Gusrizal Sebut Kondisi Bangsa Indonesia Sekarang ini Seperti Orang Stroke

1 Juni 2020
in Muhammadiyah, Nasional
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

 

TAJDID.ID-Medan || Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Lc MA mengilustrasikan kondisi bangsa Indonesia sekarang ini seperti orang stroke. Dikatakannya, orang yang stroke itu anggota tubuhnya satu dengan yang lain terganggu jaringannya, sehingga tidak serasi gerakannya. Bahkan ada sebagian yang lumpuh.

“Dan yang lebih berbahaya lagi, justru yang menjadi motor penggerak itu kondisinya yang parah, sehingga berbagai kritikan dan nasehat masuk telinga kanan, bukanya keluar ke telinga kiri, tetapi mantul lagi keluar dari telinga kanan,” ujarnya ketika tampil sebagai pembicara pada Webinar Nasional dengan tema  “Kontroversi Kedatangan TKA Pada Masa Pandemi Dalam Perspektif Ketatanegaraan” yang diadakan Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (MAHUTAMA) pada Sabtu (16 Mei 2020) jam 13.00-15.00 WIB.

Menurut Buya Gusrizal, sebenarnya MUI memperhatikan gejala ini bukan hanya semenjak masa pandemi Covid-19, tapi hal ini sudah pernah dikupas saat Konfrensi Umat Islam di Bangka Belitung beberapa waktu yang lalu yang juga dihadiri semua ormas Islam dan komponen umat.

Dikatakannya, kalau  mau mencari sebuah majelis yang menghimpun komponen ummat dari pelbagai latar keilmuan, maka KUI adalah yang terlengkap.

Tapi pertanyaan yang mendasar sampai hari ini, kata Buya Gusrizal, adalah bagaimana respon pemerintah terhadap sejumlah rekomendasi penting yang dihasilkan dari pertemuan itu?

“Sepertinya tidak ada manfaat dari pembicaraan itu, karena motor yang harus mengimplementasikannya justru sudah lumpuh. Padahal berbagai macam kritikitan dan pemikiran yang kita tau semua lahir dari akademisi dan tujuannya sangat jelas untuk membangun kehidupan berbangsa ” sebutnya.

“Oklah nanti diimplementasikan. Tapi masalhnya konsep yang disodorkan tidak diterima. Justru yang berjalan adalah konsep yang ada dalam otak yang rusak tadi itu. Dan gawatnya lagi yang menjalankan  sistem itu oleh orang-orang yang serakah pula, yang ingin menguasai semuanya,” tambahnya.

BACA JUGA

SDIT Muhammadiyah Manggeng Laksanakan Mini Trip ke Home Industri Pembutan Tempe

Usung Tema “Kami Muslim, Kami Pemimpin”, 530 Siswa SD Muhammadiyah 16 Surabaya Pukau Panggung Famfest 16

Tari Saman Meriahkan Tabligh Akbar dan Pengukuhan PCM-PCA Bumiayu 

Kurban dan Integritas Kepemimpinan

Syiar Muktamar, MDMC Pulang Pisau Gelar Pelatihan Dapur Umum untuk Bencana dan Kedaruratan.

Buka FGD Majelis Tabligh, Wakil Ketua PWM DIY: Pastikan Kajian Cabang Ranting Berjalan

Kalau diperhatikan, lanjut Buya Gusrizal,  Kepres terkait Covid-19 mulai dari No 7, 9 dan 12, semua menunjukkan pihak-pihak yang diberi kewenangan mulai dari PNPB, seterusnya dimasukkan unsur-unsur pemerintah secara dominan dan pada akhirnya cuma membatasi kewenangan daerah dalam mengatasi Pandemi.

“Pada hal kita tahu sendiri bahwa situasi dan kondisi yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lain sangat berbeda dan sangat membutuhkan kebijakan-kebijakan daerah dan lokal untuk berusaha menanggulangi ini. Tapi kemudian ditarik lagi dengan kalimat ‘harus mengikuti berbagai aturan dari pusat’, seolah-olah selama ini yang dilakukan daerah sudah banyak yang kebablasan,” sebutnya.

Kata Buya Gusrizal, MUI melihat ada 5 prinsip yang harus dimiliki negara kalau memang benar-benar serius dan sungguh-sungguh ingin menanggulangi wabah Covid-19 ini.

Pertama, harus ada kesadaran. Menurutnya ini yang masalah, dimana banyak yang mengurus di negara ini adalah orang-orang yang tidak sadar, tidak sadar sebagai komponen bangsa, dia tidak sadar bahwa ada amanah bersama. Pelbagai macam konsep-konsep kebangsaan seperti nasionalisme cuma jargon saja yang dikedepankan, sementara isinya tidak kita lihat dalam praktik dalam kehidupan berbangsa.

Jadi harus ada kesadaran bersama dalam kondisi sekarang ini. Dan justru menurut Buya Gusrizal  pemerintah hari ini tidak memilikinya. Pemerintah hari ini dengan bahasa manis mengatakan bahwa kami akan mengatasi seluruh dampak dari pandemi Covid-19 ini dari pelabagi sisi, dan ekonomi harus diselamatkan kemudian nyawa harus dijaga.

“Ini aneh, coba lihat negara-negara lain yang lebih kuat dari sisi ekonomi dan lebih maju dari sisi teknologi kesehatan mereka harus memilih dalam keadaan seperti ini, mau menyelamatkan nayawa terlebih dahulu atau mau menyelamatkan ekonomi terlebih dahulu. Bahasa yang berbunga kita dengar keduanya harus dirangkul, tetapi kami melihat bahwa pemerintah hari ini mengedepankan penyelamatan ekonomi dan mengabaikan penyelematan nyawa anak bangsa,” ujarnya.

Buya Gusrizal menegaskan, hal ini tidak boleh dibiarkan. Dikatakannya, ketua-ketua MUI di 32 Provinsi melihat pemerintah hari ini lebih mengedepankan penyelamatan ekonomi daripada menyelamatkan nayawa anak bangsa.

“Itulah pada hakikatnya yang terjadi, tapi mereka membuat kalimat-kalimat kamuflase yang mereka katakana; kami ingin menyelamatkan keduanya,” ungkapnya.

“Sadarlah tuan-tuan penguasa, kalian tidak akan mampu melakukan hal itu. Tuan-tuan harus memilih saat ini, mau mendahulukan menyalamatkan ekonomi atau menyelamatkan jiwa anak bangsa lebih dahulu,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, Ketua-ketua MUI wilayah  bukanlah orang-orang yang berada di meja dan cuma terlibat dalam webinar semata, tapi para ketua MUI itu hadir di tengah masyarakat, merasakn detak jantung kehidupan mereka.

“Kita sudah ingatkan berkali-kali, tapi tak mau mendengar. Saya rasa jangan dianggap main-main keputusan 32 provinsi itu. Karena akumulasi dari semua ini berbahaya kalau seandainya diabaikan,” katanya

Kedua, kata Buya Gusrizal, pemerintah harus punya niat baik. Jangan sampai ada kalimatnya demi bangsa, tetapi di dalamnya tertuju adalah demi menyelamatkan kelompok-kelompok tertentu yang bisa jadi itu membiayai orang-orang yang berkuasa sekarang duduk pada kursi-kursi jabatan yang mereka nikmati.

“Nah, cost demokrasi yang kita jalankan hari ini kita tahu semua dari mana, jadi jangan korbankan masyarakat banyak untuk kepentingan itu, sehingga akhirnya membelokkan niat kita bersama, bukannya untuk kepentingan bangsa, tapi untuk mewujudkan kemauan sekelompok orang di dalam kehidupan negeri ini,” tukasnya.

Ketiga. almuntonak, yaitu titik tolak  menghadapi pandemi Covid-19 ini. Buya Gusrizal justru melihat ini tidak jelas. Berbagai aturan dan peraturan tentang TKA, dimana dalam kondisi sekarang ini mereka masih dibukakan kesempatan dengan berbagai macam aturan yang di buat dan tidak akan mungkin bagi orang yang waras di negeri ini menerima aturan itu.

Ia yakin kebijakan itu tidak akan berjalan. Lihat sekarang pembukaan moda transportasi dengan persyaratan seabrek seperti itu, alasannya demi tugas, masak sampai keluar ribuan surat tugas, dari mana itu ? Kita kan tau semua budaya birokrasi di negara ini. Jadi persyaratan itu untuk apa ? Untuk jadi kamuflase kepada umat, bahwa ini ada demi kepentingan umat, kepentingan bangsa dan dibuat persyaratan ini karena mereka tau persyaratan itu sulit dipenuhi.

“Jadi perlu ada titik tolak kebijakan. Kalau tidak ada kejelasan titik tolak kebijakan, akhirnya yang terjadi satu dengan yang lain saling berbenturan. Inilah yang dipertontonkan, sebuah drama yang sungguh tidak menarik diperankan. Satu menyuruh, satu melarang,” sebutnya.

Diungkapkannya,  Sumbar adalah salahsatu daerah yang menjadi korban dari ketidakjelasan kebijakan pemerintah pusat.

Ia menuturkan, MUI Sumbar lebih awal menghimbau agar perantau jangan pulang lebih dahulu, dan ketika gubernur Jakarta mengajukan lockdown, kemudian perdebatan istilah, tetapi esensinya tidak pernah ditangkap. Lockdown atau karantina, akhirnya lahir anak bernama PSBB yang tidak jelas jenis kelaminnya, jantan atau betina.

“Akibatnya apa, orang berduyun-duyun pulang, puluhan ribu perantau masuk ke Sumbar, baru setelah itu keluar Permenhub. Dan yang terjadi kemudian adalah transmisi local,” katanya.

Keempat, istoqomah.  Perlu ada sikap itiqomah dalam menjalankan setiap kebijakan.

Kelima, mengatasi persoalan Covid-19 perlu melibatkan semua komponen bangsa.

“Kalau kelima hal tersebui tidak dijalankan, maka pandemi sulit akan diatasi,” tegasnya.

Sementara tentang  masuknya TKA asal China, Buya Gusrizal mengatakan sangat tidak tepat dan mutlak harus ditolak.

“Alasannya ada dua. Pertama dari sisi aturan tidak ada yang bisa menampungnya walaupun dipoles dengan pelbagai alasan dan dalih. Dan kedua dari sisi momentum, dimana hari ini momentum disaat bangsa ini bergulat untuk menyelesaikan masalah dalam negerinya dengan menghambat potensi-potensi penularan dari luar Indonesia malah membuka diri,” jelasnya.

Jika kedua alasan ini tetap diabaikan pemerintah, kata Buya Gusrizal,  maka secara akumulatif akan menimbulkan ketersinggungan rasa kedaulatan dan  kebangsaan di tengah-tengah masyarakat. (*)

Tags: Berita MAHUTAMABuya GusrizalMahutamaMasyarakat Hukum Tata Negara MuhammadiyahWebinar MAHUTAMA
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Muhammadiyah

MAHUTAMA dan MIH UMS Akan Gelar Webinar Nasional Refleksi Akhir Tahun 2021

by Mujaddid
27 Desember 2021
254
Sekjen MAHUTAMA Auliya Khasanofa Raih Gelar Doktor di PDIH UMS
Nasional

Sekjen MAHUTAMA Auliya Khasanofa Raih Gelar Doktor di PDIH UMS

by Mujaddid
17 Maret 2021
248
MAHUTAMA Kembali Akan Gelar Seminar Nasional Online
Muhammadiyah

MAHUTAMA Kembali Akan Gelar Seminar Nasional Online

by Mujaddid
9 September 2020
417
Pengumuman

Yuk, Ikuti “Kursus Online Legal Drafting Peraturan Daerah”

by Mujaddid
7 Agustus 2020
202
Prof Suteki: Kebebasan Berpendapat adalah “Ruh” Demokrasi
Nasional

Prof Suteki: Kebebasan Berpendapat adalah “Ruh” Demokrasi

by Mujaddid
2 Juni 2020
648
Soal Pemakzulan, Refly Harun: Harus Dibedakan Antara Wacana dengan Gerakan
Nasional

Soal Pemakzulan, Refly Harun: Harus Dibedakan Antara Wacana dengan Gerakan

by Mujaddid
2 Juni 2020
600
Ketum MAHUTAMA: Pikiran Harusnya Dilawan dengan Pikiran, Bukan dengan Jeruji Besi atau Intimidasi
Nasional

Ketum MAHUTAMA: Pikiran Harusnya Dilawan dengan Pikiran, Bukan dengan Jeruji Besi atau Intimidasi

by Mujaddid
2 Juni 2020
733
Din Syamsuddin Beberkan 3 Syarat Pemakzulan Pemimpin
Nasional

Din Syamsuddin Beberkan 3 Syarat Pemakzulan Pemimpin

by Mujaddid
2 Juni 2020
885
Nasional

Webinar Nasional MAHUTAMA dan KJI: “Menyoal Kebebasan Berpendapat dan Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19″

by Mujaddid
1 Juni 2020
1.1k
Muhammadiyah

Webinar MAHUTAMA, MUI: Pemerintah Harus Hentikan Kedatangan TKA China

by Mujaddid
1 Juni 2020
286

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
  • Terpilih Secara Aklamasi, Arya Sinulingga Resmi Pimpin PSSI Sumut Periode 2026–2030
  • Kaji Industri Komunikasi Hadapi Disrupsi, UMY dan UMJT Gelar Seminar di Madiun
  • Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
  • SMeCK Hooligan Apresiasi League Cup, Siap Jadikan Medan Tuan Rumah yang Ramah
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
Daerah

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.