• About Us
  • http://jnews.io
  • Buy JNews
  • Landing Page
  • Shop
  • Contact
  • Buy JNews
Kamis, Agustus 13, 2026
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Curi Start Menjadi Raja Nusantara

Oleh: Fauzan Azima

by Mujaddid
2020/01/21
Reading Time: 4 mins read
0
Bagikan di Facebook
Bagikan di Twitter
Bagikan di Whatsapp

Kemunculan Raja Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire sudah diperkirakan sebelumnya. Tidak lain upaya “curi start” tersebut karena mereka telah mengetahui bahwa tidak lama lagi giliran kepemimpinan nusantara akan kembali kepada sistem kerajaan-kerajaan. Sayangnya, informasi itu mereka terima tidak sempurna. Seperti jin yang “nguping” ketika Tuhan menyampaikan pesan kepada malaikat.

Berita yang bisa ditangkap jin hanya sepotong-sepotong. sehingga jin menyampaikan berita kepada manusia yang minta petunjuk kepadanya cenderung menyesatkan. Informasi yang diterima tidak tuntas dan bersifat parsial. Demikian yang terjadi pada Raja Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Mereka hanya menangkap bahwa sejarah kepemimpinan akan kembali ke awal. Mereka tidak tahu latar belakang dan syarat-syarat kembalinya ke zaman kepemimpinan kebudayaan.

Seperti putaran roda pedati, sejarah akan berulang. Indonesia telah mengalami setidaknya lima kali perubahan kalangan kepemimpinan; dari kaum adat, agamawan, intelektual, militer dan hartawan. Demikian pergiliran Sunnatullahnya.

RELATED STORIES

No Content Available

Kalau melihat putaran kepemimpinan Indonesia sekarang ini; Jokowi-Ma’ruf Amin adalah refresentasi dari kaum hartawan yang akan berputar atau beralih kepada kepemimpinan kaum adat. Kita tidak tahu sampai kapan kepemimpinan kaum hartawan ini berkuasa, tetapi bisa dipastikan setelah era kepemimpinan kaum hartawan akan beralih kepada kepemimpinan kaum adat.

Indonesia sebelum menjadi negara kesatuan seperti sekarang ini dipimpin oleh kaum adat; struktur pemerintahan dipimpin oleh Raja atau Sulthan di tingkat pusat dan sampai tingkat bawah dipilih berdasar tata cara adat. Biasanya kekuasaan dilanjutkan berdasarkan keturunan. Namun dalam perjalanannya style kepemimpinan kaum adat ini banyak dikecam karena melestarikan feodalisme sehingga timbul rasa kebencian rakyat terhadap kaum adat.

Perlawanan terhadap kaum adat ini dipimpin oleh para agamawan atau ulama dan akhirnya rakyat mengangkat tokoh-tokoh agama atau ulama sebagai pemimpin mereka karena dianggap punya moral tinggi dibandingkan dengan kaum adat. Para tokoh agama dan ulama dianggap mampu mendistribusikan kepabaikan kepada masyarakat banyak.

Tidak puas dengan kepemimpinan agama, apalagi menganggap agama tidak pantas dicampur-adukan dengan negara sehingga bangkitlah kaum intelektual yang dianggap mampu membawa negara ini kepada arah yang lebih baik. Lahirlah tokoh-tokoh seperti Ir. Soekarno, Muhammad Hatta dan tokoh-tokoh intelektual lainnya.

Sementara kalangan militer sudah menunggu di tikungan bahwa kepemimpinan kaum intelektual pasti akan berakhir juga karena tidak cukup kuat akibat tidak mampu menjaga stabilitas politik. Akhirnya militer yang punya struktur dari pusat sampai ke daerah serta persenjataan yang lengkap dapat merebut kekuasaan dari tangan intelektual.

Ketika Jenderal Soeharto berkuasa, militer berkuasa sampai tingkat kampung. Bahkan jabatan strategis di beberapa kementerian dan legislatif ada jatah untuk militer. Namun kekuasaan militer yang otoriter tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman yang mengedepankan penegakan HAM. Akhirnya kepemimpinan militer tumbang juga.

Sekarang kepemimpinan Indonesia dari struktur pusat sampai bawah dikuasai oleh kaum hartawan. Oleh karena itu jangan mimpi tanpa uang bisa menjadi pemimpin di negeri ini. Kekuasaan hartawan karena basisnya adalah materi maka lebih dekat kepada kemaksiatan dan kezaliman sehingga rakyat kembali ingin mencari pemimpin yang benar-benar santun, adil dan beradap yang kalau menurut Sunnatullahnya akan kembali kepada kaum adat yang meninggalkan feodalisme. Kaum adat inilah yang pada masa akan datang dianggap mampu menjalankan dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan.

Adapun latar belakang kembalinya kepada kepemimpinan kebudayaan adalah bencana alam. Gunung-gunung sebagai pasak untuk bumi sudah mulai longgar akibat dari penggundulan hutan. Di Pulau Jawa sendiri hanya Gunung Selamat yang masih kokoh, sementara gunung-gunung yang lain sudah longgar. Hal tersebut salah satu yang melatarbelakangi Ibu Kota Negara pindah ke Pulau Kalimantan yang relatif aman dari bencana.

Pada masa yang akan datang peta Indonesia tidak menutup kemungkinan akan berubah. Jawa sendiri bisa menjadi beberapa pulau. Demikian juga pulau-pulau lainnya. Mungkin bencana demi bencana ke depan sebagai “cara” Tuhan menggeser orang-orang yang tidak cocok lagi sebagai khalifah di muka bumi ini karena melenceng jauh dari “visi misi” Tuhan yang sebenarnya.

Salah satu “agenda setting” Tuhan adalah mengembalikan kembali “akhlak mulia” makhluknya sebagaimana Nabi Muhammad SAW diutus untuk memperbaiki menghilangkan sifat-sifat tidak terpuji, kemudian memasukan sifat-sifat terpuji kepada jiwa manusia. Sehingga lahirlah generasi yang berhati suci sebagai khalifah di muka bumi ini.

Sedangkan Raja Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire segera mereka umumkan sebagai sarana menarik “dana nusantara” yang konon mereka percayai disimpan di Bank Swiss dan Bank Dunia yang tidak bisa diambil kecuali jika Indonesia kembali kepada Kerajaan Nusantara yang Bersatu.

Pergiliran masa depan dunia akan ditata oleh kepemimpinan kebudayaan sudah menjadi Sunnatullah. Kabar gembiranya mereka akan bangkit tanpa feodalisme dan properti identitas lewat pakaian atau bangunan istana yang condong sebagai berhala. Kepemimpinan kebudayaan akan dipimpin oleh orang-orang yang mensucikan bathinnya yang “membangun istana” di dalam jiwanya. (*)

(Mendale, 20 Januari 2020)


Fauzan Azima
Tags: raja nusantara

About Us

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

Learn more

Recent Stories

  • Perkuat Ekosistem Digital Kampus, Rektor UMSU Temui Menteri Komdigi Meutya Hafid
  • Jadi Kontingen Terbesar di ASEAN, UMSU Utus 47 Mahasiswa Kuliah dan Studi Pengalaman di Malaysia

Categories

  • 'Aisyiyah
  • Advertorial
  • AUM
  • Beauty
  • Catatan Hukum
  • Celebrity
  • Celotehan
  • Cerpen
  • Culture
  • Daerah
  • Editorial
  • Entertainment
  • Esai
  • Fashion
  • Foto
  • Health
  • Hizbul Wathan
  • IMM
  • Internasional
  • IPM
  • Islam
  • Jepretan
  • Jufri Daily
  • Kebangsaan
  • Keislaman
  • Kemuhammadiyahan
  • Kesehatan
  • Kiat
  • KOKAM
  • Kutipan
  • LabMu
  • LazisMu
  • Living
  • M. Risfan Sihaloho
  • MahasiswaMu Menulis
  • MCCC
  • MDMC
  • Medsos
  • Muhammadiyah
  • Muktamar
  • Muktamar 49
  • Muswil13
  • Nasional
  • Nasyiatul 'Aisyiyah
  • Nukilan
  • Olah Raga
  • Opini
  • Ortom
  • Pedoman
  • Pemilu
  • Pemko Binjai
  • Pemuda Muhammadiyah
  • Pengumuman
  • Percikan
  • Pilkada
  • Prestasi
  • PTM/A
  • Puisi
  • Resensi
  • Sains
  • Sejarah
  • Semarak Muktamar
  • Sosok
  • Syahdan
  • TAJDID Channel
  • Tapak Suci
  • Teknologi
  • Tilikan
  • Tokoh Dunia
  • Tokoh Nasional
  • Travel
  • Ulasan
  • Uncategorized
  • Utasan
  • Video
  • Wawasan

Follow Us

Facebook
Twitter
Instagram
  • Redaksi
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan