Site icon TAJDID.ID

Pertentangan ialah Hukum Surgawi

Kepada matahari

kau tak pernah menyatakan tidak

Setiap pagi kau menuai

Dan mengelompokkan energi ke dalam makna

Namun selalu saja kau lupa

bahwa rindu juga tenaga

Ingat pepatah

yang sempurna ialah yang rindu

dan rindu yang sempurna ialah yang lupa

 

 

Selain sepi kun fayakun

juga menjelma jadi putih

Segala yang tidak jatuh

sebagaimana langit

menghapus dendam pada yang putih

Dan dari yang putih

engkau yang memukau

Engkau, mozaik, juga berwarna biru

Yang biru ialah yang putih

Tidak akan memudar, aku bersaksi

 

 

Kepada optika

engkau mengharap lebih dari sinar

tetapi tidak tanpa matahari

Hak penghuni malam ialah yang lembut

lebih dari sekadar langit

Namun, hanya bintang sanggup bertaburan

Dan ruhmu, insyaallah

 

 

Semua yang kemilau adalah yang hijau

Engkau berdoa supaya warna

tetap memikat dan air mewangi

Dan sungai mengalirkan rindu

Maka daun yang lepas

Dari dahan menjatuhkan makrifat

Lalu engkau pun

 

 

Milik bulan ialah yang lembut

sebab salju selalu berkilau

Dan engkau, sahabat mata air

lebih bulan dari kuning

Karena muthmainnah, bagai bayang-bayang

mekar dalam sunyi

 

 

Semoga Tuhan memberi karunia rumput

Yang menawarkan semi sejati

Ketika musim pelaut menaburkan benih

Yang menyuburkan semesta

Dan sunyi menjanjikan mimpi yang mawar

 

 

Atas perintah

cahaya jadi bunyi

Di atas pohon cakrawala

Di antara para pemabuk

Setelah perahu kembali ke sauh

engkau pun berpihak

Kapada lautan kabut

 

 

Di ujung makrifat

bersama malaikat

ketika angin

dan ruh

dan Hu

terjatuh

 

 

Dan engkau

Bersama rindu pohon

aku percaya pada yang merah

dan Engkau. Bersama ombak, buih dan nelayan

aku percaya pada yang jingga

dan Engkau. Bersama burung, rumput dan petani

aku percaya pada yang kuning

dan Engkau. Bersama angin dan bintang

aku percaya pada yang hijau

dan Engkau. Bersama sauh, perahu dan pelaut

aku percaya pada yang biru

dan Engkau. Bersama rebana dan kecapi

aku percaya pada yang api

dan Engkau. Bersama kabut dan hutan

aku percaya pada yang ungu

dan Engkau

 

 

Aku cinta keajaiban

karena bersama bulan bunga mengenal mawar

Aku cinta keajaiban

karena Hu pun

Khutbah-khutbah burung

Mengikat langit dan awan

Memberi warna putih

Kepada mawar

Dan kepada ruhmu

 

 

Tuhan dan malaikat mencuci pagi

Lalu awan pun membuka ujung langit

Dan engkau, wakil yang serba kuning, mengurai kabut

 

 

Ya nabi salam ‘alaik

Ya rasul salam ‘alaik

Ya habib salam ‘alaik

 

 

Di antara nama-nama indah

aku pilih Al Hayyu

yang mengalirkan oksigen ke ujung pohon

dan menggoda kerisik cemara

 

 

Ya Hayyu

 

 

Kusapa angin pagi di Ann Arbor

ditawarkan kalau-kalau aku suka keliling kota

Hari itu mendung

dan ia berjanji sunguh-sungguh

takkan membiarkan aku kehujanan

Habis, kami berdua adalah ayat Tuhan

 

 

Aku percaya keajaiban O2

yang mengalir lewat darah

dan menyebarkan virus makrifat

 

 

Ya Allah

Ya Rasulullah

Ya malaikat

Ya bukit-bukit

Ya batu-batu

Ya daun melayang

Ya burung mengigau

Ya tumbuh

Ya berkembang

Ya menghilang

 

 

Yang selalu ialah alif lam mim

yang sempurna ialah kabut

ketika menyebut nun

lalu, menyelinap ke laut

Marhaban. Ahlan wa sahlan

 

 

Burung murai

menanam rumput makrifat dan Hu

berisik di daun Hu

beratap di kutub Hu

berumah di rantau Hu

berteduh di ranting Hu

 

 

Makrifat sungai pohon

Makrifat bunga mawar

Makrifat batu-batu

merangkai tasbih danau

melebur danau jadi kemilau

melebur kemilau jadi ruh

melebur ruh jadi aku

melebur aku jadi nafas-Mu

 

 

Ketika salju mencair

Ketika zikir mengalir

Ketika benam membenam

Ketika engkau dan Hu

Melepas rindu

 

 

Suatu hari kutemukan

burung di sangkar termenung membungkam

aku bertanya dan dengan sedih dia mengatakan

Mereka yang melupakan Tuhan

tak berhak mendengar burung bernyanyi

 

 

Sebagai hadiah malaikat menanyakan

apakah aku ingin berjalan di atas mega

dan aku menolak

karena kakiku masih di bumi

sampai kejahatan terakhir dimusnahkan

Sampai dhuafa dan mustadhafin

diangkat Tuhan dari penderitaan

 


Sumber: Buku “Makrifat DAUN, DAUN Makrifat”

Exit mobile version