No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Dramaturgi: Sleeping With The Enemy

Oleh : Budi Nurastowo Bintriman

13 Februari 2020
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Foto Ilustrasi.

Foto Ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Pangeran Kodok sumringah menerima kegabungan Pendekar Kelelawar. Hatinya sangat lega. Karena ia yakin tak akan ada lagi pihak-pihak yang bisa menggoyangnya, atau menggulingkan kekuasaannya di tengah jalan atau di tikungan atau di lorong-lorong kegelapan.

Pula Pendekar Kelelawar, sumringah. Semangatnya berpolitik di dalam kekuasaan akan segera terwujud. Karena sudah berulang-kali ia mengadu nasib di kontestasi, selalu gagal. Meski tak duduk di puncak singgasana, tak mengapa. Yang penting masuk ke lingkaran istana. Toh pada periode lalu-lalu banyak juga yang begitu.
Senyum bertebaran di bibir mereka. Bahasa tubuh mereka berpadu harmonis, antara kelegaan dengan semangat. Mereka berpelukan, cipika-cipiki, dan terus saling lempar senyum. Akhirnya berangkulan menuju meja hidangan makan siang. Pintu ruang makan-makan ditutup rapat-rapat. Dan semua wartawan mlongo.

Tak cukup dengan lega. Tak cukup dengan semangat. Tak cukup dengan semua keceriaan itu. Di tepi meja makan mereka berbisik-bisik lirih. Hingga tak ada siapapun yang mendengarnya. Sesekali kekeh-kekehan mereka menyelai bisik-bisik itu. Ada kesepakatan bulat. Untuk siapakah? Oh, ternyata untuk rakyat.

Kembali pintu ruang makan-makan dibuka. Tanpa seremony bertele-tele. Pangeran Kodok menyambar mikrofon. Ia pidato singkat padat penuh hikmat. Bahwa mereka memadukan masing-masing potensi untuk satu tujuan. Tujuan untuk mempersatukan kembali keterbelahan rakyat. Seolah-olah, mereka kuasa mempersatukan. Padahal yang pasti, merekalah yang membelah.

Tanpa seremoni basa-basi. Pendekar kelelawar mendekatkan mulutnya ke mikrofon. Ia berorasi langsung ke inti. Bahwa mereka berkoalisi dengan mengesampingkan ego masing-masing untuk satu tujuan. Dengan siap berkorban segala-galanya untuk satu tujuan. Tujuan untuk menyejahterakan kehidupan rakyat. Hebat bukan, heroisme dua tokoh kita ini?

Wartawan tetap mlongo. Tapi berita besar tersebut musti segera disiarkan, dan disebar-luaskan ke seluruh pelosok negeri. Agar rakyat bergembira ria. Tumbuh lagi harapan hidupnya. Bisa menjadi macan Asia, yang meroket setinggi langit tujuh. Harapan-harapan yang bisa mencandui. Jadi bisa lupa harga-harga menanjak naik. Jadi bisa lupa yang sejahtera siapa, yang menderita siapa. Jadi bisa lupa penggarongan sumber daya alam kita yang berlangsung abadi dari detik ke detik.

Kembali kepada Pangeran Kodok dan Pendekar Kelelawar. Dalam koalisi, mereka gembira. Para pengikut mereka juga gembira. Pengikut Pangeran Kodok gembira karena merasa berhasil menjinakkan dan menaklukkan pesaing berat selama kontestasi. Pengikut Pendekar Kelelawar gembira karena capeknya jadi oposisi telah terbayar dengan posisi gebyar-gebyar.

Sambil ada yang mimpi-mimpi, siapa tahu kebagian kursi menteri. Meleset sedikit, masih ada kursi komisaris. Meleset sedikit, masih ada kursi direksi. Meleset sedikit masih ada kursi yang bisa untuk mengisi pundi-pundi. Seberapapun itu, masih kebagian rejeki. Itulah yang dinanti-nanti anak dan isteri, atau anak dan suami yang setia menanti.

BACA JUGA

Modal dan Ideologi

Robinhutan

Ericktoral

Rubel

Impor Beras dan Nasib Petani

Faktor Demografis Peningkatan “Halal Tourism”

Juru bicara Pangeran Kodok dan juru bicara Pendekar Kelelawar berbicara santun dan berhati-hati sekali. Saat kontestasi berujar politis bak ratna mutu manikam. Namun saat koalisi berujar politis laksana tahi kotok tahi ayam. Hingga telinga manusia waras tak sudi merekam. Hingga dalam batin mereka menerka-nerka. Inikah negeri jahanam?

Akar rumput juga mlongo, persis seperti wartawan. Keringat, darah, dan air mata mereka saat kontestasi, kini terkubur di ruang hampa, di atas tanah yang tumbuhannya meranggas. Sebagiannya terbakar, hingga bikin sesak nafas. Rupawan demokrasi terhempas. Fatsun politik kandas. Role model kesatriaan amblas. Mungkinkah kontestasi ditiadakan? Mungkinkah kontestasi tak perlu kampanye?

Suasana gembira optimis ceria terus dicitrakan. Pangeran Kodok dan Pendekar Kelelawar ke mana-mana berdua. Citra bersahabat. Citra akrab. Citra saling percaya. Pangeran Kodok mengajak Pendekar nyebur kolam. Pendekar Kelelawar mulai curiga. Karena alat nafasnya bukan insang dan kulit. Jika ajakan itu dituruti, ia akan sekarat, karena paru-parunya akan meledak tertekan air. Maka ia menolaknya.

Kini gantian. Pendekar Kelelawar mengajak Pangeran Kodok terbang mengangkasa. Pangeran Kodok mulai curiga. Karena ia tak punya sayap, dan kulitnya cepat mengering. Jika ajakan itu dituruti, ia akan kelepek-kelepek, kemudian dijatuhkan dari ketinggian yang tak berhingga. Tubuhnya bisa mecedel, kemudian mati. Maka ia menolaknya.

Jika keseimbangan penguasa dengan oposisi sebuah thesa, jika koalisi gemuk otoriter adalah antithesa. Mungkinkah muncul sinthesa gerakan massa di akar rumput yang skeptis, pesimistis, apatis, dan apolitis? Mereka menganggap, bahwa Pangeran Kodok adalah si cebong-cebong belaka? Mereka menganggap, bahwa Pendekar Kelelawar adalah si kampret-kampret belaka? Rumput enggan bergoyang untuk selama-lamanya.

Kontestasi yang akan datang berganti cerita. Latar depan dengan wajah ingusan anak-anak papa dan wajah ingusan anak-anak mama. Latar belakang tetap dengan wajah lama. Wajah-wajah lama yang masih bergaris orde lama dan bergaris orde baru. Sementara wajah-wajah orde reformasi yang mustinya segar, malah terkencing-kencing dan pucat-pasi bergelantungan di tepian meja makan hidangan sarapan pagi, santap siang, dan makan malam. Politik “kolobendu” siap menerkam Indonesia.

Lantas dikemanakan para loyalis Pangeran Kodok dan para loyalis Pendekar Kelelawar, yang dulu sangat getol mempertajam kontradiksi-kontradiksi? Apakah mulut mereka telah disumpal cor semen? Apakah dalam diam mereka diam-diam juga ada kesamaan watak dengan si boss? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain. Tapi semua tanya tersapu oleh satu jawaban. Anak cucu cicit kita terpaksa menerima warisan (legacy) politik nir nilai. Absurd…!!!

Wa-ALLAHU a’lam bishshawwab.


 

 

 

 

Muballigh Akar Rumput. Pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Asy-Syifa’ Bantul (2012 – 2017)

Tags: Budi Nurastowo BintrimandramaturgiPangeran KodokPendekar KelelawarSleeping With The Enemy
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

The Epstein Files dan Dramaturgi
Internasional

The Epstein Files dan Dramaturgi

by Mujaddid
5 Februari 2026
52
Topeng Kekuasaan
Nasional

Topeng Kekuasaan

by Mujaddid
10 Juli 2025
114
Paradoks Kepemimpinan dalam Eforia Pilkada
Muhammadiyah

Paradoks Kepemimpinan dalam Eforia Pilkada

by Mujaddid
24 November 2024
95
Wayang Kulit bagi Muhammadiyah
Muhammadiyah

Wayang Kulit bagi Muhammadiyah

by Mujaddid
16 Februari 2022
1.9k
Tindak Lanjut dan Konsekuensi Pada Seruan Boikot dari Muhammadiyah
Muhammadiyah

Tindak Lanjut dan Konsekuensi Pada Seruan Boikot dari Muhammadiyah

by Mujaddid
18 Mei 2021
316
Urgensi Tahfidzul Qur’an Bagi Muhammadiyah
Keislaman

Urgensi Tahfidzul Qur’an Bagi Muhammadiyah

by Mujaddid
4 Maret 2021
242
Kompleksitas Jalinan Antara Muhammadiyah dan Kekuasaan
Kemuhammadiyahan

Kompleksitas Jalinan Antara Muhammadiyah dan Kekuasaan

by Mujaddid
12 Januari 2021
141
Menyikapi Pembangkangan Warga dan Kader Terhadap Maklumat Persyarikatan
Muhammadiyah

Menyikapi Pembangkangan Warga dan Kader Terhadap Maklumat Persyarikatan

by Mujaddid
8 Juni 2020
703
Surat Terbuka untuk Yang Terhormat Mas Nadhiem Menteri Pendidikan Nasional
Opini

Surat Terbuka untuk Yang Terhormat Mas Nadhiem Menteri Pendidikan Nasional

by Mujaddid
8 Mei 2020
510
Opini

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Anti Syariat Poligami?

by Mujaddid
20 November 2019
702

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Mengenal Amar Brkic: Putra Tokoh Muhammadiyah Jerman yang Jadi Pahlawan Garuda Muda di Kualifikasi Piala Asia
  • Budak Tahta (Buta)
  • Korban Dugaan Kriminalisasi, Nenek Marlina Diputus Lepas oleh Hakim di PN Lubuk Pakam
  • Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
  • 50 Petugas LazisMu Sumut akan Ikuti Program Akademi Jurnalistik Filantropi
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
Jufri Daily

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.